Indikator
  • Undercontruction

Kehidupan Pemulung Ini Bikin Hati Polisi Terenyuh

Home / Peristiwa - Daerah / Kehidupan Pemulung Ini Bikin Hati Polisi Terenyuh
Kehidupan Pemulung Ini Bikin Hati Polisi Terenyuh Kasat Lantas Polres Bangkalan, AKP Inggit Prassetyanto berbincang santai dengan Mardiyeh (45).(foto: Doni Heriyanto/TIMES Indonesia)

TIMESMADURA, BANGKALAN – Kehidupan pasangan suami istri (Pasutri) Brodin (60) dan Mardiyeh (45) menjadi salah satu potret kemiskinan di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Kesehariannya, mereka mengantungkan hidup dari hasil memulung sampah.

Sudah lima tahun, korban tragedi Sampit Kalimantan Tengah itu hidup dibawah garis kemiskinan. Hidup dengan serba kekurangan, memaksa pasutri dengan satu anak ini tinggal di gubuk berukuran 5x4 meter persegi yang berdiri di atas tanah milik seseorang.

Bangunan semi permanen yang dihuninya hanya terdiri dari dua kamar dan dapur. Dindingnya, terbuat dari anyaman bambu dan pintu dari seng bekas. Tak ada kasur, hanya ranjang bambu yang menghiasi kamar tersebut.

Rumah yang berdempetan dengan Gudang Bulog di Jalan Halim Perdana Kusuma ini tidak memiliki kamar mandi. Mandi ke sungai yang ada di seberang jalan menjadi satu-satunya pilihan.

Bantuan-SembakoNhvOc.jpgKasat Lantas Polres Bangkalan, AKP Inggit Prassetyanto memberikan bantuan sembako kepada Mardiyeh (45).

Kasat Lantas Polres Bangkalan, AKP Inggit Prassetyanto dengan rombongan yang mengunjungi rumah pemulung itu tidak mampu menyembunyikan kesedihannya. Dia hanya bisa terpaku dan terdiam saat melihat isi kamar serta langit-langitan rumah tak laik huni itu.

Disekeliling rumah hanya ada tumpukan kayu dan botol bekas yang dikumpulkan untuk dijual. Hasil memulung itu baru bisa dijual setelah tiga bulan dengan penghasilan kurang lebih RP 300 ribu.

"Kalau sudah banyak baru bisa dijual. Hasilnya buat kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak saya," tutur Mardiyeh.

Mardiyeh mengaku hasil dari memulung jauh dari kata cukup. Namun, dia dan suaminya tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bersyukur dan menerima kenyataan yang ada. Kedantangan polisi untuk memberikan bantuan membuatnya terharu.

"Terima kasih banyak telah membantu kami. Bantuan ini sangat berharga," ucapnya lirih.

Satuan Lalulintas (Satlantas) Polres Bangkalan sengaja datang berkunjung ke rumah pemulung itu untuk berbagi kebahagiaan dalam rangka perayaan HUT ke-62 Satlantas.

"Kami memberikan bantuan sembako untuk kebutuhan sehari-hari,"Kasat Lantas Polres Bangkalan, AKP Inggit Prassetyanto, Selasa (12/9/2017).

Menurutnya, orang yang kurang beruntung seperti Mardiyeh perlu dibantu untuk meringankan beban hidupnya. Sebagai bentuk kepedulian antar sesama, memberi bantuan materi dan dukungan moril adalah langkah konkrit dari kepolisian.

"Kami tidak akan berhenti untuk terus berbagi," ucapnya. (*)

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com