Kenaikan Cukai Rokok, 150 Ribu Buruh Pabrik Rokok Terancam PHK

Home / Berita / Kenaikan Cukai Rokok, 150 Ribu Buruh Pabrik Rokok Terancam PHK
Kenaikan Cukai Rokok, 150 Ribu Buruh Pabrik Rokok Terancam PHK Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI) akan melakukan aksi demonstrasi menolak kenaikan cukai rokok. (FOTO: Dwijo Suyono/TIMES Indonesia)

TIMESMADURA, YOGYAKARTA – Rencana pemerintah menaikan cukai rokok sebesar 23 persen membuat 150 ribu buruh pabrik rokok di Jawa resah. Mereka khawatir kehilangan pekerjaan ketika pabrik rokok melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), menyusul adanya kenaikan cukai yang diikuti harga rokok.

“Jika terjadi PHK terhadap buruh pabrik rokok, siapa nanti yang bertanggung jawab. Apakah pemerintah bersedia menyediakan pekerjaan lain,” kata Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI), Joko Wahyudi di Yogyakarta. (21/9/2019).

Joko menambahkan, kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen membuat harga jual rokok mengalami kenaikan sekitar 35 persen. Kemudian, kenaikan tersebut akan berdampak pada penjualan rokok yang pada ujungnya pihak pengusaha tidak mampu membayar upah para buruh tersebut.

Joko mengingatkan, industri rokok telah memberikan masukan yang cukup besar kepada pemerintah melalui cukainya yakni sebesar Rp 153 triliun pada tahun 2018.

“Terlebih lagi bagi para buruh rokok kretek. Sehingga, para buruh tersebut otomatis akan kehilangan pekerjaan yang merupakan gantungan hidup,” papar Joko.

Sekretaris Paguyuban MPSI, Syarifuddin menerangkan, pihaknya mengendus aroma yang tersembunyi dari rencana kenaikan cukai rokok tersebut. Yakni, ada gerakan secara sistematis yang sengaja ingin membuat pabrik rokok dalam negeri kolap. Kemudian, perusahaan pabrik rokok besar asing masuk ke Indonesia menawarkan ingin membeli pabrik rokok yang sedang mengalami kesulitan keuangan.

“Setelah berhasil membeli pabrik rokok lokal kemudian mereka menjual rokok dengan harga murah,” papar Syarifuddin.

Di sisi lain, selah menguasai pabrik rokok lokal kemudian pabrik asing akan menggunakan tenaga mesin yang dinilai lebih efisien dibandingkan produksi dengan tenaga manusia.

“Penggunaan mesin rokok mampu menggantikan 7.000 buruh yang menggunakan tangan dalam memproduksi rokok sigaret kretek,” jelasnya.

Pengurus Serikat Pekerja Wilayah DIY, Waljid Budi mengatakan serikat pekerja di seluruh Indonesia akan melakukan aksi besar-besaran di seluruh kota di Indonesia. Bahkan, nanti sebanyak 50 ribu buruh pabrik rokok dan petani akan melakukan aksi di Jakarta menuju gedung DPR dan Kementrian Keuangan RI. Aksi serupa akan dilakukan di Surabaya, Yogyakarta, dan kota-kota lain.

“Sebagai bentuk respon terhadap kenaikan cukai rokok oleh pemerintah, kami buruh pabrik rokok di Yogyakarta akan melakukan aksi ke jalan. di Yogyakarta ada sekitar 4.000 buruh. Ini kami lakukan karena kami para buruh pabrik rokok terancam PHK imbas kenaikan cukai,” tegas Budi. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com