Solidaritas Dan Belas Kasih dalam Pandemi

Home / Kopi TIMES / Solidaritas Dan Belas Kasih dalam Pandemi
Solidaritas Dan Belas Kasih dalam Pandemi Dhimas Anugrah, Studi Doktoral di Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris.

TIMESMADURA, JAKARTA – Miris, jika kita melihat berita tentang seorang pria yang menggunakan senjata untuk merampok tisu toilet di Hong Kong. Juga seorang perempuan yang bertengkar memperebutkan barang di supermarket di Sydney, Australia. 

Belum lagi ulah para penimbun barang di Tanah Air yang membuat barang kebutuhan masyarakat menjadi langka di pasar, mereka hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Mereka tak peduli ribuan orang lain yang terdampak oleh tindakan mereka yang tak terpuji itu. Inilah realitas yang ada saat ini. Sifat "buas" dalam diri manusia (predisposing factor) muncul karena terpicu krisis (precipitating factor).

Pandemi Covid-19 merupakan fenomena, terlepas dari hipotesis apa atau siapa penyebab wabah ini. Corona mendemonstrasikan beragam respons manusia terhadap virus yang sudah merenggut banyak jiwa itu. Menyikapi ini, menurut saya, Covid-19 seharusnya mengundang kita untuk mengembangkan dua hal berikut:

Solidaritas

Solidaritas ialah kemampuan merasakan satu rasa penderitaan dengan orang lain, merasa senasib, memiliki perasaan solider atau perasaan setia kawan. Solidaritas sebenarnya menjadi suatu manifestasi alami yang muncul dari existential goodness (kebaikan alamiah manusia). Ini dibuktikan oleh penelitian dari Lembaga Penelitian Bencana di Universitas Delaware, Amerika Serikat, yang telah melakukan 700 penelitian terkait krisis atau bencana, termasuk gempa dan banjir  sejak 1963 secara detil. 

Simpulannya, di kala bencana datang orang tetap tenang dan saling membantu, walau memang tetap ada ketakutan dan kekerasan, namun jumlahnya sangat minim. Yang selalu terjadi adalah, kebanyakan orang saling berbagi dan menguatkan satu sama lain ketika krisis atau bencana menimpa.

Seperti yang diamati filsuf muda Belanda, Rutger Bregman, tentang tulisan yang tertera dinding salah satu rumah di Jerman:

"Hai tetangga, jika kamu berusia lebih dari 65 tahun dan kekebalan tubuhmu lemah, saya ingin membantumu. Beberapa pekan ke depan, saya bisa membantumu berbelanja di luar. Jika kamu perlu bantuan, tinggalkan pesan di pintu rumahmu dengan nomor teleponmu. Bersama, kita bisa menjalani semuanya. Kamu tidak sendirian!"

Virus korona memang bisa menyerang siapa saja, terutama mereka yang berusia lanjut dan kekebalan tubuhnya lemah. Namun, di Jerman, warganya bahu-membahu, bersatu, dan saling membantu. Di Wuhan, Tiongkok, warganya saling memberi semangat dengan meneriakkan, "Jiayou," yang artinya jangan menyerah! Lalu di Italia, terutama di Napoli dan Siena, orang-orang menyanyi dari jendela rumah mereka demi saling memberi semangat, terutama bagi para korban terinfeksi korona.

Solidaritas seperti inilah yang selayaknya kita kembangkan dalam konteks masyarakat Indonesia. Solidaritas dan gotong-royong adalah saudara kembar, yang merupakan ekspresi nilai Pancasila yang sudah sepantasnya mewarnai dinamika masyarakat kita dalam menghadapi situasi ini.

Menebar Belas Kasih

Seorang ibu di Puglia, Italia, mengatakan kalimat yang menjadi viral ke seluruh dunia melalui media sosial, andra tutto bene!

Andra Tutto Bene (semua akan baik-baik saja). Perkataan ini meneduhkan, memberi semangat, dan menunjukkan belas kasih. Kalimat "semua akan baik-baik saja" bukan sekadar ungkapan biasa. Di dalamnya memuat rasa welas-asih yang memberi semangat dan harapan, sekaligus doa bagi semua orang yang membacanya agar keadaan mereka (akan) baik-baik saja. 

Muatan belas kasih dalam andra tutto bene mengandung sebuah harapan. Yaitu, harapan akan sebuah keadaan yang kembali pulih, normal seperti sedia kala. Harapan inilah yang perlu kita miliki. 

Harapan adalah suatu keinginan kuat akan sesuatu (yang baik) akan terjadi. Harapan dalam Andra Tutto Bene bukan sekadar mimpi, bukan pula candu yang membius masyrakarat, namun suatu keadaan batin yang memampukan kita bertahan dalam kesesakan karena krisis. 

Dr. Viktor E. Frankl mengobservasi para tahanan di kamp konsentrasi Nazi selama tiga tahun (1942-1945) dan menemukan, hanya orang-orang yang punya harapan bisa bertahan hidup, sementara yang tak memiliki harapan lebih rapuh jiwanya, lalu cepat menemui ajal. Harapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, kata penulis Ibrani. 

Kedua hal ini, solidaritas dan belas kasih, perlu sama-sama kita pupuk dan kembangkan dalam masyarakat kita. Dimulai dari sekarang, dan diawali dari diri kita sendiri. 

Dr. Yakub Susabda berujar, setiap manusia memang memiliki sifat asli bawaan yang buruk (predisposing factors) yang bisa muncul kapan saja karena terpicu krisis atau hal-hal lain di luar dirinya (precipitating factors). Namun, sudah menjadi tanggung-jawab kita untuk menemukan dan mengelola predisposing factors kita itu, agar sebagai manusia kita tetap bisa bersikap bajik dan bijak dalam situasi seperti ini.

Bersikap bajik dan bijak bisa kita ekspresikan melalui laku solidaritas dan belas kasih di tengah masyarakat, yang secara konkret kita demonstrasikan dengan menaati imbauan Pemerintah dalam hal social distancing, tidak menyebar berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya, dan tidak serakah menimbun barang-barang demi kepentingan pribadi. 

Mari membangun solidaritas dan menebar belas kasih, seraya tetap berdoa, Kyrie Eleison (Tuhan kasihanilah) dan sembuhkanlah dunia ini.

***

*) Penulis adalah Dhimas Anugrah, Studi Doktoral di Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris.

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com