Virus Corona di Media: Media Tak berimbang, Bikin Masyarakat Bimbang

Home / Kopi TIMES / Virus Corona di Media: Media Tak berimbang, Bikin Masyarakat Bimbang
Virus Corona di Media: Media Tak berimbang, Bikin Masyarakat Bimbang Aprilia Seva Ovi Aditiya, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

TIMESMADURA, MALANG – Mencermati sebuah berita merupakan hal yang penting. Cermat dalam artian memahami berita tersebut apakah aktual atau tidak. Disamping itu pula, proksimitas (kedekatan) seperti apa yang diberitakan sehingga mampu memenuhi kebutuhan audience, keakuratan berita, dan yang tidak kalah penting yakni berita disampaikan secara berimbang. 

Penyampaian berita yang berimbang diharapkan dapat membawa dampak baik atas apa yang diberitakan sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Melalui penyampaian berita yang berimbang juga diharapkan dapat memberikan informasi secara luas, dari berbagai sumber, opini, kepentingan, sehingga dapat mencerdasakan dan membuat publik sebagai konsumen media lebih teredukasi

Penyampaian berita secara berimbang sebenarnya sudah disebutkan dalam kode etik jurnalistik (KEJ), Pasal 1: wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Dimana penafsiran dari berimbang tersebut adalah setiap pihak mendapat kesempatan yang setara. Sehingga dapat dikatakan pula suatu berita tidak memihak yang artinya menyampaikan informasi dari seluruh pihak terkait.

Namun sangat disayangkan hingga saat ini ketentuan tersebut belum dipenuhi seluruhnya oleh para awak media. Kecenderungan ketidak berimbangan berita masih memenuhi pemberitaan, terutama pemberitaan online yang lebih berfokus pada asumsi semakin banyak meraih khalayak, semakin banyak pula iklan yang masuk, dan diharapkan mendatangkan profit yang besar. Tanpa memikirkan dampak apa yang terjadi di masyarakat atas pemberitaan yang tidak berimbang tersebut. 

Terlebih saat ini, media dituntut untuk selalu update dalam setiap informasi yag sedang marak yakni Corona Virus Disease, atau yang lebih dikenal dengan Covid-19.

Telah kita temui banyak pemberitaan yang melenceng dari kode etik jurnalistik (KEJ). Padahal, sejak dikonfirmasinya kasus Covid-19 pada senin, 2 Maret 2020 lalu, media sudah memiliki peranan penting dalam membentuk presepsi dan keputusan publik terkait isu atau pemberitaan tentang covid-19. Media diharapkan dapat mengedukasi masyarakat, dalam mencegah penyebaran virus tersebut. 

Jika permasalahan tersebut dihubungkan dengan teori yang dikemukakan oleh MCLuhan, yakni Teori Determinasi,-teori ini menyebutkan bahwa setiap kejadian atau tindakan akibat dari pengaruh teknologi-, maka, dalam hal ini media, baik media sosial maupun media konvensional memiliki andil yang cukup besar dalam mempengaruhi perspektif, sikap, moral, dan perilaku masyarakat.

Tak heran jika saat ini masyarakat dibuat “bimbang” dalam mengambil langkah, tindakan, yang tepat karna dirasa media cenderung tidak berimbang. 

Di tengah pandemi seperti ini, semestinya media harus mampu menetralisir keadaan, tanpa menciptakan ketakutan,kebimbangan, atau lebih menakut-nakuti para konsumen dari media. Dengan menyampaikan berita yang semestinya dapat mencerdaskan dan mengedukasi masyarakat sehingga dapat menginfluence masyarakat dalam mengambil keputusan bijak dalam meningkatkan kesehatan 

Informasi terkini memang harus tetap disampaikan, dengan catatan tetap berimbang salam pemberitaannya.media harus mampu meredam stigma negative dan deskriminasi lewat setiap pemberitaan, dimana hal ini bertujuan untuk membangun optimisme public sehingga tidak lagi bimbang dalam pengambilan langkah atau keputusan. 

Media harus menjadi “sosok” yang dapat menginfluence audience dengan tetap independen dan berimbang dalam memberikan informasi terkait Covid-19. Jangan justru menjadi “momok” yang di takuti audience karena menyajikan berita yang dirasa meresahkan. Karena peran media sangatlah mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia di masa pandemi Covid-19. 

***

*)Oleh: Aprilia Seva Ovi Aditiya, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com